Humas Polres Sanggau - Suasana khidmat menyelimuti kawasan Keraton Surya Negara Sanggau, Jalan Mangga, Kelurahan Tanjung Sekayam, Kecamatan Kapuas, Kabupaten Sanggau, pada Jumat (10/4/2026) sore. Masyarakat bersama tokoh adat dan pemerintah daerah berkumpul dalam rangka pelaksanaan ritual adat Bebuang atau Tolak Ajong, Ruah Rasul, dan Doa Tolak Bala sebagai bagian dari peringatan Hari Jadi ke-410 Kota Sanggau.
Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 16.00 WIB tersebut berlangsung dengan pengamanan ketat dari jajaran Polres Sanggau. Pengamanan dilakukan guna memastikan seluruh rangkaian acara berjalan aman, tertib, dan lancar, mengingat tingginya antusiasme masyarakat yang hadir.
Ritual adat ini dipimpin langsung oleh Raja Keraton Sanggau, Pangeran Ratu Surya Negara, Drs. H. Gusti Arman, M.Si., dan turut dihadiri Sekretaris Daerah Kabupaten Sanggau, Drs. Aswin Khatib, M.Si., Kabag Ops Polres Sanggau AKP PSC. Kusuma Wibawa, S.H., M.A.P., serta sejumlah tokoh masyarakat dan tokoh adat.
Dalam sambutannya, Raja Keraton Sanggau menjelaskan bahwa ritual Bebuang atau Tolak Ajong memiliki makna simbolis sebagai upaya membuang segala bentuk kesialan dan marabahaya dari kehidupan masyarakat. Tradisi ini menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan hidup dan keharmonisan sosial.
Ia juga menambahkan bahwa Ruah Rasul merupakan bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus penghormatan terhadap nilai-nilai keagamaan yang telah lama menjadi fondasi kehidupan masyarakat Sanggau. Sementara itu, Doa Tolak Bala menjadi ikhtiar spiritual untuk memohon perlindungan, keselamatan, dan keberkahan bagi seluruh warga.
Menurutnya, tradisi tersebut mencerminkan perpaduan harmonis antara adat, budaya, dan agama yang diwariskan secara turun-temurun. Oleh karena itu, pelestarian ritual adat menjadi tanggung jawab bersama sebagai identitas daerah dan kebanggaan masyarakat Sanggau.
Sementara itu, Sekda Kabupaten Sanggau, Aswin Khatib, menegaskan bahwa Bebuang atau Tolak Ajong bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan warisan budaya leluhur yang sarat nilai spiritual, sosial, dan kearifan lokal yang harus terus dijaga.
Ia berharap momentum Hari Jadi ke-410 Kota Sanggau dapat memperkuat persatuan dan kesatuan masyarakat serta mendorong semangat pembangunan daerah. Selain itu, peringatan ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menjadikan Sanggau semakin maju dan berdaya saing.
Rangkaian ritual adat sebenarnya telah dimulai sejak Kamis (9/4/2026) malam dengan pelaksanaan Bebuang atau Tolak Ajong dan Ruah Rasul oleh pihak Keraton Sanggau. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Doa Tolak Bala pada hari berikutnya.
Acara ditutup dengan kegiatan ramah tamah dan makan bersama antara unsur pemerintah, tokoh adat, serta masyarakat sebagai simbol kebersamaan dan mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat.
Kabag Ops Polres Sanggau, AKP PSC. Kusuma Wibawa, S.H., M.A.P., dalam keterangannya menyampaikan bahwa pengamanan kegiatan dilakukan berdasarkan Surat Perintah Kapolres Sanggau. Personel diterjunkan untuk mengantisipasi potensi gangguan keamanan selama berlangsungnya kegiatan.
“Kami memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman dan kondusif. Pengamanan dilakukan secara terbuka dan tertutup, dengan mengedepankan pendekatan humanis kepada masyarakat,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi partisipasi masyarakat yang turut menjaga ketertiban selama kegiatan berlangsung. Menurutnya, sinergi antara aparat keamanan, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi kunci suksesnya pelaksanaan kegiatan adat tersebut.
Sebagai agenda rutin tahunan Pemerintah Kabupaten Sanggau, ritual adat Bebuang atau Tolak Ajong dan Ruah Rasul menjadi bagian penting dalam menyemarakkan Hari Jadi Kota Sanggau sekaligus menjaga kelestarian budaya lokal yang menjadi jati diri daerah. (Dny Ard / Humas Res Sgu)

